nicely

Patterned Text Generator at TextSpace.net

Kamis, 22 Mei 2014

Affandi

Affandi Koesoema (Cirebon, Jawa Barat, 1907 - 23 Mei 1990) adalah seorang pelukis yang dikenal sebagai Maestro Seni Lukis Indonesia, mungkin pelukis Indonesia yang paling terkenal di dunia internasional, berkat gaya ekspresionisnya dan romantisme yang khas. Pada tahun 1950-an ia banyak mengadakan pameran tunggal di India, Inggris, Eropa, dan Amerika Serikat. Pelukis yang produktif, Affandi telah melukis lebih dari dua ribu lukisan.

Biografi

Affandi dilahirkan di Cirebon pada tahun 1907, putra dari R. Koesoema, seorang mantri ukur di pabrik gula di Ciledug, Cirebon. Dari segi pendidikan, ia termasuk seorang yang memiliki pendidikan formal yang cukup tinggi. Bagi orang-orang segenerasinya, memperoleh pendidikan HIS, MULO, dan selanjutnya tamat dari AMS, termasuk pendidikan yang hanya diperoleh oleh segelintir anak negeri.
Namun, bakat seni lukisnya yang sangat kental mengalahkan disiplin ilmu lain dalam kehidupannya, dan memang telah menjadikan namanya tenar sama dengan tokoh atau pemuka bidang lainnya.
Pada umur 26 tahun, pada tahun 1933, Affandi menikah dengan Maryati, gadis kelahiran Bogor. Affandi dan Maryati dikaruniai seorang putri yang nantinya akan mewarisi bakat ayahnya sebagai pelukis, yaitu Kartika Affandi.
Sebelum mulai melukis, Affandi pernah menjadi guru dan pernah juga bekerja sebagai tukang sobek karcis dan pembuat gambar reklame bioskop di salah satu gedung bioskop di Bandung. Pekerjaan ini tidak lama digeluti karena Affandi lebih tertarik pada bidang seni lukis.
Sekitar tahun 30-an, Affandi bergabung dalam kelompok Lima Bandung, yaitu kelompok lima pelukis Bandung. Mereka itu adalah Hendra Gunawan, Barli, Sudarso, dan Wahdi serta Affandi yang dipercaya menjabat sebagai pimpinan kelompok. Kelompok ini memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. Kelompok ini berbeda dengan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada tahun 1938, melainkan sebuah kelompok belajar bersama dan kerja sama saling membantu sesama pelukis.
Pada tahun 1943, Affandi mengadakan pameran tunggal pertamanya di Gedung Poetera Djakarta yang saat itu sedang berlangsung pendudukan tentara Jepang di Indonesia. Empat Serangkai--yang terdiri dari Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Mas Mansyur--memimpin Seksi Kebudayaan Poetera (Poesat Tenaga Rakyat) untuk ikut ambil bagian. Dalam Seksi Kebudayaan Poetera ini Affandi bertindak sebagai tenaga pelaksana dan S. Soedjojono sebagai penanggung jawab, yang langsung mengadakan hubungan dengan Bung Karno.
Ketika republik ini diproklamasikan 1945, banyak pelukis ambil bagian. Gerbong-gerbong kereta dan tembok-tembok ditulisi antara lain "Merdeka atau mati!". Kata-kata itu diambil dari penutup pidato Bung Karno, Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945. Saat itulah, Affandi mendapat tugas membuat poster. Poster yang merupakan ide Soekarno itu menggambarkan seseorang yang dirantai tapi rantainya sudah putus. Yang dijadikan model adalah pelukis Dullah. Kata-kata yang dituliskan di poster itu ("Bung, ayo bung") merupakan usulan dari penyair Chairil Anwar. Sekelompok pelukis siang-malam memperbanyaknya dan dikirim ke daerah-daerah.
Bakat melukis yang menonjol pada diri Affandi pernah menorehkan cerita menarik dalam kehidupannya. Suatu saat, dia pernah mendapat beasiswa untuk kuliah melukis di Santiniketan, India, suatu akademi yang didirikan oleh Rabindranath Tagore. Ketika telah tiba di India, dia ditolak dengan alasan bahwa dia dipandang sudah tidak memerlukan pendidikan melukis lagi. Akhirnya biaya beasiswa yang telah diterimanya digunakan untuk mengadakan pameran keliling negeri India.
Sepulang dari India, Eropa, pada tahun lima puluhan, Affandi dicalonkan oleh PKI untuk mewakili orang-orang tak berpartai dalam pemilihan Konstituante. Dan terpilihlah dia, seperti Prof. Ir. Saloekoe Poerbodiningrat dsb, untuk mewakili orang-orang tak berpartai. Dalam sidang konstituante, menurut Basuki Resobowo yang teman pelukis juga, biasanya katanya Affandi cuma diam, kadang-kadang tidur. Tapi ketika sidang komisi, Affandi angkat bicara. Dia masuk komisi Perikemanusiaan (mungkin sekarang HAM) yang dipimpin Wikana, teman dekat Affandi juga sejak sebelum revolusi.
Topik yang diangkat Affandi adalah tentang perikebinatangan, bukan perikemanusiaan dan dianggap sebagai lelucon pada waktu itu. Affandi merupakan seorang pelukis rendah hati yang masih dekat dengan flora, fauna, dan lingkungan walau hidup di era teknologi. Ketika Affandi mempersoalkan 'Perikebinatangan' tahun 1955, kesadaran masyarakat terhadap lingkungan hidup masih sangat rendah.
Affandi juga termasuk pimpinan pusat Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), organisasi kebudayaan terbesar yang dibubarkan oleh rezim Suharto. Dia bagian seni rupa Lembaga Seni Rupa) bersama Basuki Resobowo, Henk Ngantung, dan sebagainya.
Pada tahun enampuluhan, gerakan anti imperialis AS sedang mengagresi Vietnam cukup gencar. Juga anti kebudayaan AS yang disebut sebagai 'kebudayaan imperialis'. Film-film Amerika, diboikot di negeri ini. Waktu itu Affandi mendapat undangan untuk pameran di gedung USIS Jakarta. Dan Affandi pun, pameran di sana.
Ketika sekelompok pelukis Lekra berkumpul, ada yang mempersoalkan. Mengapa Affandi yang pimpinan Lekra kok pameran di tempat perwakilan agresor itu. Menanggapi persoalan ini, ada yang nyeletuk: "Pak Affandi memang pimpinan Lekra, tapi dia tak bisa membedakan antara Lekra dengan Lepra!" kata teman itu dengan kalem. Karuan saja semua tertawa.
Meski sudah melanglangbuana ke berbagai negara, Affandi dikenal sebagai sosok yang sederhana dan suka merendah. Pelukis yang kesukaannya makan nasi dengan tempe bakar ini mempunyai idola yang terbilang tak lazim. Orang-orang lain bila memilih wayang untuk idola, biasanya memilih yang bagus, ganteng, gagah, bijak, seperti; Arjuna, Gatutkaca, Bima atau Werkudara, Kresna.
Namun, Affandi memilih Sokrasana yang wajahnya jelek namun sangat sakti. Tokoh wayang itu menurutnya merupakan perwakilan dari dirinya yang jauh dari wajah yang tampan. Meskipun begitu, Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (Deparpostel) mengabadikan wajahnya dengan menerbitkan prangko baru seri tokoh seni/artis Indonesia. Menurut Helfy Dirix (cucu tertua Affandi) gambar yang digunakan untuk perangko itu adalah lukisan self-portrait Affandi tahun 1974, saat Affandi masih begitu getol dan produktif melukis di museum sekaligus kediamannya di tepi Kali Gajahwong Yogyakarta.

Affandi dan melukis

Semasa hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari 2.000 karya lukis. Karya-karyanya yang dipamerkan ke berbagai negara di dunia, baik di Asia, Eropa, Amerika maupun Australia selalu memukau pecinta seni lukis dunia. Pelukis yang meraih gelar Doktor Honoris Causa dari University of Singapore tahun 1974 ini dalam mengerjakan lukisannya, lebih sering menumpahkan langsung cairan cat dari tube-nya kemudian menyapu cat itu dengan jari-jarinya, bermain dan mengolah warna untuk mengekspresikan apa yang ia lihat dan rasakan tentang sesuatu.
Dalam perjalanannya berkarya, pemegang gelar Doctor Honoris Causa dari University of Singapore tahun 1974, ini dikenal sebagai seorang pelukis yang menganut aliran ekspresionisme atau abstrak. Sehingga seringkali lukisannya sangat sulit dimengerti oleh orang lain terutama oleh orang yang awam tentang dunia seni lukis jika tanpa penjelasannya. Namun bagi pecinta lukisan hal demikianlah yang menambah daya tariknya.
Kesederhanaan cara berpikirnya terlihat saat suatu kali, Affandi merasa bingung sendiri ketika kritisi Barat menanyakan konsep dan teori lukisannya. Oleh para kritisi Barat, lukisan Affandi dianggap memberikan corak baru aliran ekspresionisme. Tapi ketika itu justru Affandi balik bertanya, Aliran apa itu?.
Bahkan hingga saat tuanya, Affandi membutakan diri dengan teori-teori. Bahkan ia dikenal sebagai pelukis yang tidak suka membaca. Baginya, huruf-huruf yang kecil dan renik dianggapnya momok besar.
Bahkan, dalam keseharian, ia sering mengatakan bahwa dirinya adalah pelukis kerbau, julukan yang diakunya karena dia merasa sebagai pelukis bodoh. Mungkin karena kerbau adalah binatang yang dianggap dungu dan bodoh. Sikap sang maestro yang tidak gemar berteori dan lebih suka bekerja secara nyata ini dibuktikan dengan kesungguhan dirinya menjalankan profesi sebagai pelukis yang tidak cuma musiman pameran. Bahkan terhadap bidang yang dipilihnya, dia tidak overacting.
Misalnya jawaban Affandi setiap kali ditanya kenapa dia melukis. Dengan enteng, dia menjawab, Saya melukis karena saya tidak bisa mengarang, saya tidak pandai omong. Bahasa yang saya gunakan adalah bahasa lukisan. Bagi Affandi, melukis adalah bekerja. Dia melukis seperti orang lapar. Sampai pada kesan elitis soal sebutan pelukis, dia hanya ingin disebut sebagai tukang gambar.
Lebih jauh ia berdalih bahwa dirinya tidak cukup punya kepribadian besar untuk disebut seniman, dan ia tidak meletakkan kesenian di atas kepentingan keluarga. Kalau anak saya sakit, saya pun akan berhenti melukis, ucapnya.
Sampai ajal menjemputnya pada Mei 1990, ia tetap menggeluti profesi sebagai pelukis. Kegiatan yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia dimakamkan tidak jauh dari museum yang didirikannya itu.

Museum Affandi

Museum yang diresmikan oleh Fuad Hassan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ketika itu dalam sejarahnya telah pernah dikunjungi oleh Mantan Presiden Soeharto dan Mantan Perdana Menteri Malaysia Dr. Mahathir Mohammad pada Juni 1988 kala keduanya masih berkuasa. Museum ini didirikan tahun 1973 di atas tanah yang menjadi tempat tinggalnya.
Saat ini, terdapat sekitar 1.000-an lebih lukisan di Museum Affandi, dan 300-an di antaranya adalah karya Affandi. Lukisan-lukisan Affandi yang dipajang di galeri I adalah karya restropektif yang punya nilai kesejarahan mulai dari awal kariernya hingga selesai, sehingga tidak dijual.
Sedangkan galeri II adalah lukisan teman-teman Affandi, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal seperti Basuki Abdullah, Popo Iskandar, Hendra, Rusli, Fajar Sidik, dan lain-lain. Adapun galeri III berisi lukisan-lukisan keluarga Affandi.
Di dalam galeri III yang selesai dibangun tahun 1997, saat ini terpajang lukisan-lukisan terbaru Kartika Affandi yang dibuat pada tahun 1999. Lukisan itu antara lain "Apa yang Harus Kuperbuat" (Januari 99), "Apa Salahku? Mengapa ini Harus Terjadi" (Februari 99), "Tidak Adil" (Juni 99), "Kembali Pada Realita Kehidupan, Semuanya Kuserahkan KepadaNya" (Juli 99), dan lain-lain. Ada pula lukisan Maryati, Rukmini Yusuf, serta Juki Affandi.

Affandi di mata dunia

Affandi memang hanyalah salah satu pelukis besar Indonesia bersama pelukis besar lainnya seperti Raden Saleh, Basuki Abdullah dan lain-lain. Namun karena berbagai kelebihan dan keistimewaan karya-karyanya, para pengagumnya sampai menganugerahinya berbagai sebutan dan julukan membanggakan antara lain seperti julukan Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia bahkan julukan Maestro. Adalah Koran International Herald Tribune yang menjulukinya sebagai Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia, sementara di Florence, Italia dia telah diberi gelar Grand Maestro.
Berbagai penghargaan dan hadiah bagaikan membanjiri perjalanan hidup dari pria yang hampir seluruh hidupnya tercurah pada dunia seni lukis ini. Di antaranya, pada tahun 1977 ia mendapat Hadiah Perdamaian dari International Dag Hammershjoeld. Bahkan Komite Pusat Diplomatic Academy of Peace PAX MUNDI di Castelo San Marzano, Florence, Italia pun mengangkatnya menjadi anggota Akademi Hak-Hak Azasi Manusia.
Dari dalam negeri sendiri, tidak kalah banyak penghargaan yang telah diterimanya, di antaranya, penghargaan "Bintang Jasa Utama" yang dianugrahkan Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1978. Dan sejak 1986 ia juga diangkat menjadi Anggota Dewan Penyantun ISI (Institut Seni Indonesia) di Yogyakarta. Bahkan seorang Penyair Angkatan 45 sebesar Chairil Anwar pun pernah menghadiahkannya sebuah sajak yang khusus untuknya yang berjudul "Kepada Pelukis Affandi".
Untuk mendekatkan dan memperkenalkan karya-karyanya kepada para pecinta seni lukis, Affandi sering mengadakan pameran di berbagai tempat. Di negara India, dia telah mengadakan pameran keliling ke berbagai kota. Demikian juga di berbagai negara di Eropa, Amerika serta Australia. Di Eropa, ia telah mengadakan pameran antara lain di London, Amsterdam, Brussels, Paris, dan Roma. Begitu juga di negara-negara benua Amerika seperti di Brasil, Venezia, San Paulo, dan Amerika Serikat. Hal demikian jugalah yang membuat namanya dikenal di berbagai belahan dunia. Bahkan kurator terkenal asal Magelang, Oei Hong Djien, pernah memburu lukisan Affandi sampai ke Rio de Janeiro.

Penghargaan dan lain-lain

  • Agama: Islam
  • Istri
  1. Maryati (istri pertama)
  2. Rubiyem (istri kedua)
  • Anak
  1. Kartika Affandi
  2. Juki Affandi BSc
  3. Rukmini (adik tiri)
  • Penghargaan
  1. Piagam Anugerah Seni, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1969
  2. Doktor Honoris Causa dari University of Singapore, 1974
  3. Dag Hammarskjöld, International Peace Prize (Florence, Italia, 1997)
  4. Bintang Jasa Utama, tahun 1978
  5. Julukan Pelukis Ekspresionis Baru Indonesia oleh Koran International Herald Tribune
  6. Gelar Grand Maestro di Florence, Italia
  • Pameran
  1. Museum of Modern Art (Rio de Janeiro, Brazil, 1966)
  2. East-West Center (Honolulu, 1988)
  3. Festival of Indonesia (AS, 1990-1992)
  4. Gate Foundation (Amsterdam, Belanda, 1993)
  5. Singapore Art Museum (1994)
  6. Centre for Strategic and International Studies (Jakarta, 1996)
  7. Indonesia-Japan Friendship Festival (Morioka, Tokyo, 1997)
  8. ASEAN Masterworks (Selangor, Kuala Lumpur, Malaysia, 1997-1998)
  9. Pameran keliling di berbagai kota di India.
  10. Pameran di Eropa al: London, Amsterdam, Brussels, Paris, Roma
  11. Pameran di benua Amerika al: Brazilia, Venezia, São Paulo, Amerika Serikat
  12. Pameran di Australia
  • Buku tentang Affandi
  1. Buku kenang-kenangan tentang Affandi, Prix International Dag Hammarskjöld, 1976, 189 halaman. Ditulis dalam empat bahasa, yaitu Bahasa Inggris, Belanda, Perancis, dan Indonesia.
  2. Nugraha Sumaatmadja, buku tentang Affandi, Penerbitan Yayasan Kanisius, 1975
  3. Ajip Rosidi, Zaini, Sudarmadji, Affandi 70 Tahun, Dewan Kesenian Jakarta, 1978. Diterbitkan dalam rangka memperingati ulang tahun ketujuh puluh.
  4. Raka Sumichan dan Umar Kayam, buku tentang Affandi, Yayasan Bina Lestari Budaya Jakarta, 1987, 222 halaman. Diterbitkan dalam rangka memperingati 80 tahun Affandi, dalam dua bahasa, yakni Bahasa Inggris dan Indonesia.
sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Affandi

Basuki Abdullah

Basuki Abdullah (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 27 Januari 1915 – meninggal 5 November 1993 pada umur 78 tahun) adalah salah seorang maestro pelukis Indonesia.Ia dikenal sebagai pelukis aliran realis dan naturalis. Ia pernah diangkat menjadi pelukis resmi Istana Merdeka Jakarta dan karya-karyanya menghiasi istana-istana negara dan kepresidenan Indonesia, disamping menjadi barang koleksi dari penjuru dunia.

Masa muda

Bakat melukisnya terwarisi dari ayahnya, Abdullah Suriosubroto, yang juga seorang pelukis dan penari. Sedangkan kakeknya adalah seorang tokoh Pergerakan Kebangkitan Nasional Indonesia pada awal tahun 1900-an yaitu Doktor Wahidin Sudirohusodo. Sejak umur 4 tahun Basuki Abdullah mulai gemar melukis beberapa tokoh terkenal diantaranya Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, Yesus Kristus dan Krishnamurti.
Pendidikan formal Basuki Abdullah diperoleh di HIS Katolik dan Mulo Katolik di Solo. Berkat bantuan Pastur Koch SJ, Basuki Abdullah pada tahun 1933 memperoleh beasiswa untuk belajar di Akademik Seni Rupa (Academie Voor Beeldende Kunsten) di Den Haag, Belanda, dan menyelesaikan studinya dalam waktu 3 tahun dengan meraih penghargaan Sertifikat Royal International of Art (RIA).

Aktivitas

Lukisan "Kakak dan Adik" karya Basuki Abdullah (1978). Kini disimpan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.
Pada masa Pemerintahan Jepang, Basuki Abdullah bergabung dalam Gerakan Poetra atau Pusat Tenaga Rakyat yang dibentuk pada tanggal 19 Maret 1943. Di dalam Gerakan Poetra ini Basuki Abdullah mendapat tugas mengajar seni lukis. Murid-muridnya antara lain Kusnadi (pelukis dan kritikus seni rupa Indonesia) dan Zaini (pelukis impresionisme). Selain organisasi Poetra, Basuki Abdullah juga aktif dalam Keimin Bunka Sidhosjo (sebuah Pusat Kebudayaan milik pemerintah Jepang) bersama-sama Affandi, S.Sudjoyono, Otto Djaya dan Basuki Resobawo.
Di masa revolusi Bosoeki Abdullah tidak berada di tanah air yang sampai sekarang belum jelas apa yang melatarbelakangi hal tersebut. Jelasnya pada tanggal 6 September 1948 bertempat di Belanda Amsterdam sewaktu penobatan Ratu Yuliana dimana diadakan sayembara melukis, Basuki Abdullah berhasil mengalahkan 87 pelukis Eropa dan berhasil keluar sebagai pemenang.
Lukisan "Balinese Beauty" karya Basuki Abdullah yang terjual di tempat pelelangan Christie's di Singapura pada tahun 1996.
Sejak itu pula dunia mulai mengenal Basuki Abdullah, putera Indonesia yang mengharumkan nama Indonesia. Selama di negeri Belanda Basuki Abdullah sering kali berkeliling Eropa dan berkesempatan pula memperdalam seni lukis dengan menjelajahi Italia dan Perancis dimana banyak bermukim para pelukis dengan reputasi dunia.
Basuki Abdullah terkenal sebagai seorang pelukis potret, terutama melukis wanita-wanita cantik, keluarga kerajaan dan kepala negara yang cenderung mempercantik atau memperindah seseorang ketimbang wajah aslinya. Selain sebagai pelukis potret yang ulung, diapun melukis pemandangan alam, fauna, flora, tema-tema perjuangan, pembangunan dan sebagainya.
Basuki Abdullah banyak mengadakan pameran tunggal baik di dalam negeri maupun di luar negeri, antara lain karyanya pernah dipamerkan di Bangkok (Thailand), Malaysia, Jepang, Belanda, Inggris, Portugal dan negara-negara lain. Lebih kurang 22 negara yang memiliki karya lukisan Basuki Abdullah. Hampir sebagian hidupnya dihabiskan di luar negeri diantaranya beberapa tahun menetap di Thailand dan diangkat sebagai pelukis Istana Merdeka dan sejak tahun 1974 Basuki Abdullah menetap di Jakarta.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Basuki_Abdullah

Seni Rupa Murni 2 Dimensi Nusantara

Adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media bisa di tangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Karya seni rupa murni sebagai keindahan karya manusia yang dibuat dengan tujuan untuk dinikmati keindahannya saja.Karya seni rupa 2 dimensi berbentuk datar dan mempunyai panjang dan lebar.Dikatakan nusantara karena karya seni rupa yang berasal dari dalam negeri.
contoh gambar seni rupa murni 2 dimensi nusantara
  • lukisan

  • kaligrafi


  • Seni Grafis


Adalah cabang seni rupa yang berbentuk 2 demensi yang proses pembuatannya dengan menggunakan tehnik cetak
karya seni rupa murni 2 dimensi mancanegara

Adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Karya Seni Rupa Murni sebagai keindahan karya manusia yang dibuat dengan tujuan untuk dinikmati keindahannya saja. Karya Seni Rupa 2 Dimensi berbentuk datar dan mempunyai Panjang dan Lebar, dan hanya dapat dilihat dari satu arah saja, yaitu depan. Dikatakan Mancanegara karena karya seni rupa yang berasal dari Luar Negeri.

contoh karya seni murni 2 dimensi mancanegara
  • lukisan luar negeri



Karya seni rupa terapan 2 dimensi nusantara
Adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Karya Seni Rupa Terapan, selain dinikmati keindahannya, juga mempunyai fungsi dan manfaat. Fungsi karya seni rupa dibedakan menjadi 2 yaitu Fungsi estetis dan fungsi Praktis. Fungsi estetis adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia tentang rasa keindahan. Fungsi praktis adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia akan benda pakai.   

GAMBAR KARYA SENI RUPA TERAPAN 2 DIMENSI NUSANTARA

  • Batik



  • pola pada kain

KARYA SENI RUPA TERAPAN 2 DIMENSI MANCANEGARA

adalah cabang seni yang membentukkarya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. karya seni rupa terapan  selain dinikmati keindahannya, juga mempunyai fungsidan manfaat. fungsi karya seni rupa dibedakan menjadi 2 yaitu fungsi estetis dan fungsi praktis. fungsi estetis adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia tentang rasa keindahan. fungsi praktis adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia akan benda pakai. Dimensi berbentuk datardan mempunyai panjang dan lebar. dikatakan mancanegara karna karya seni rupa yang berasal dari luar negeri.

Contoh Gambar Karya Seni Rupa Terapan 2 Dimensi Mancanegara
  • Batik


  • Uang


  • iklan


I And Young Brother
 
sumber : http://blogputrywl.blogspot.com/

Awas! Lukisan Palsu Gentayangan

Jakarta, GATRAnews – Lukisan repro maestro S. Sudjojono dan Hendra Gunawan berjejer rapi di dinding Galeri Nasional. Namun, tidak semua lukisan yang dipamerkan itu asli. Di antara lukisan tersebut merupakan hasil pemalsuan yang mengatasnamakan Sudjojono dan Hendra Gunawan.

Hal ini sengaja dilakukan oleh oknum demi meraup keuntungan dan mengesampingkan originalitas karya seni. Agar pengunjung bisa membedakan lukisan asli dan palsu, panitia meletakkan lukisan berdekatan.   Para kolektor lukisan rupanya sering tertipu dengan lukisan palsu. Anehnya, sampai saat ini belum ada hukum yang gamblang mengatur masalah ini.

Perkumpulan Pencinta Senirupa Indonesia (PPSI), yang mengadvokasi permasalahan lukisan palsu, bingung mengadu kemana. “PPSI adalah lembaga yang dinotariskan pada 28 November 2012 dan didirikan atas dasar kondisi seni rupa yang memilukan,” kata Budi Setiadharma, Ketua PPSI, di Galeri Nasional, Jakarta (8/5).

Untuk memberi pemahaman kepada masyarakat, PPSI menggelar pameran lukisan dan peluncuran buku berjudul “Jejak Lukisan Palsu”, yang dihadiri para wartawan, kolektor dan penikmat lukisan. “Tujuan kegiatan ini untuk kebudayaan Indonesia karena salah satu ciri budaya bangsa adalah seni lukis,” ujar Budi.

Budi menambahkan bahwa salah satu kasus lukisan palsu yang cukup banyak ada di koleksi Museum Oei Hong Djien, Magelang. “Pameran lukisan Museum OHD pada April 2012, keautentikan lukisannya diragukan oleh beberapa pihak,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Syikieb Sungkar yang dipanel dengan Budi Setiadharma mengatakan bahwa buku “Jejak Lukisan Palsu” merupakan hasil investigasi PPSI yang komprehensif. “Buku ini adalah hasil investigasi yang mempelajari lingkup dan sepak terjang lukisan palsu yang terjadi di Indonesia,” kata salah satu kolektor lukisan ini.

Syikieb memberikan tips mengetahui originalitas lukisan. “Cara mengetahui lukisan palsu atau tidak adalah menganalisis visual lukisan, mengetahui asal-asul dan dan riwayat pelukis, serta tes forensik material lukisan,” ujarnya. (*/HRS)

sumber : http://www.gatra.com/budaya-1/seni/52456-polemik-lukisan-palsu.html

Karya Seni 3 Dimensi di Artphoria 2013

Jakarta, GATRAnews – Setelah kesuksesan pameran seni "Trick Art Japan" mendatangkan 60.000 orang pengunjung pada tahun lalu, kini Trimitra Events kembali menggelar "Artphoria 2013" . Selama 44 hari sejak 14 Desember 2013 hingga 26 Januari 2014 di Ciputra Artpreneur Center, Ciputra World 1, Jakarta, lantai 11. Pengunjunga dapat mengapresiasi dan menikmati karya seni dari satu seniman internasional, lima seniman Indonesia, dan puluhan bakat serta komunitas kreatif yang memfokuskan pada karya seni 3 dimensi.


Artphoria 2013 menampilkan mahakarya Kurt Wenner, seniman internasional asal Amerika Serikat yang dikenal karena mempopulerkan 3D Pavement Art atau Anamorphic Street Painting. Ciri khas karyanya bersifat ilusi optikal, yaitu karya seni modern yang memanfaatkan manipulasi daya pandang manusia. Dari rangkaian lukisan pada objek datar yang memadukan warna, perspektif, dan teknik pencahayaan khusus, terciptalah karya seni yang tampak benar-benar hidup.

Ada 11 buah karya Kurt Wenner yang ditampilkan dalam Artphoria 2013, di mana salah satu di antaranya bertajuk "Shangri La" disajikan spesial melalui sesi Live Demo Special Painting langsung di hadapan pers dan pengunjung. Menurut Wenner, ini adalah pameran yang menampilkan karya seni lukis 3 dimensi dengan jumlah terbanyak dalam satu tempat secara bersamaan.

"Artphoria 2013" menggagas tema "Art is Now Exciting". Selain memamerkan karya terbaik, karya seni di "Artphoria 2013" juga ditampilkan sebagai sesuatu yang "seru". Artinya karya seni yang dipamerkan tidak hanya atraktif, namun dibawa ke tingkat yang lebih tinggi yakni asyik dan interaktif untuk dinikmati.

Dalam konteks lukisan 3 dimensi kreasi dari Kurt Wenner, karya seni bukan hanya bersifat visual dipandang mata, namun pengunjung pun bisa melebur untuk lebih intim berinteraksi. Jika biasanya pengunjung sebuah pameran dilarang menyentuh atau berfoto dengan karya seni yang ada, justru di Artphoria 2013 pengunjung dianjurkan membawa kamera dan diperbolehkan untuk berfoto diri dalam beragam pose bersama karya-karya seni tersebut, sehingga menghasilkan foto unik dengan ilusi optikal. Bahkan diadakan pula kompetisi foto "Fun with Artphoria" yang dinilai oleh para juri selebritas, dengan hadiah menarik seperti ponsel pintar dan komputer tablet.

Selain Kurt Wenner, lima seniman Indonesia yang ikut memamerkan karyanya, yakni Hendra "Hehe" Harsono, Rotua Magdalena, Diela Maharani, Zaky Arifin, dan Nady Azhry. Para seniman muda ini unjuk gigi dengan beragam basis kreativitas sesuai karakternya masing-masing. Ada juga 29 komunitas kreatif unik mengisi stan-stan yang ada, dari komunitas menggambar, kerajinan tangan, fotografi, hingga cosplay, seperti Komunitas Lubang Jarum Indonesia, Komunitas Peri, Komunitas Atap Alis Indonesia, Barudak Urban Light Bandung, Pena Hitam Arts, Kelas Pagi, Masyarakat Komik Indonesia, Invalid Urban, Komunitas Cosplay, dan lain-lain.

"Artphoria 2013"  juga diramaikan dengan pagelaran hiburan dan workshop. Ada hiburan setiap akhir pekan dari penampil dan musisi yang unik dan berbeda, di antaranya Jakarta Broadway Team, Bojafoo Percussion, Taman Suropati Chamber, The Rombenkz, Mime Couztic, hingga Jakarta Beatbox Clan. Selain itu, ada pula beragam workshop menarik, yang menjadikan "Artphoria 2013" sebagai festival seni yang menghibur dan edukatif. (*/Ven) 

sumber : http://www.gatra.com/budaya-1/seni/44438-karya-seni-3-dimensi-di-artphoria-2013.html 

Lukisan Abstrak Terpopuler

Menurut wikipedia, seni lukis adalah merupakan satu cabang dari seni rupa, yang artinya sebuah pengembangan uang lebih utuh dari menggambar. melukis ialah suatu kegiatan mengolah medium dua dimensi atau permukaan dari objek tiga dimensi untuk mendapatkan kesan tertentu. Medium lukisan seperti papan, kertas, kanvas. Secara historis, seni lukis sangat berkaitan dengan gambar, sejak zaman ribuan tahun lalu peniggalan prasejarah nenek moyang manusia telah mulai membuat gambar pada dinding-dinding gua untuk mencitrakan bagian penting dari kehidupan.
lukisan abstrak minimalislukisan atau gambar dibuat dengan menggunakan alat yang sederhana seperti arang dan bahan lainnya, salah satu yang sering digunakan oleh nenek moyang zaman dahulu adalah menempelkan tangan di dinding gua lalu kemudian menyemburkannya dengankunyahan dedaunan atau batu mineral lainnya. hasil dari menempelkan tangan tersebut juga berwarna-warni hingga bisa dilihat pada masa sekarang. Objek yang sering muncul pada masa itu adalah binatang, manusia dan yang lainnya seperti bukit, gunung, pohon, sungai dan lainnya. bentuknya pun tidak selalu menyerupai dengan yang aslinya.
Lukisan abstrak cantik
“Lukisan abstrak” adalah bentuk dari imajinasi seni yang diolah oleh seniman dalam mencari esensi bentuk objeknya sehingga bentuk dari wujudnya tersebut menjadi unik serta bentuk dari lukisan abstrak itu sendiri tidak kita kenal sekalipun kita jumpai dalam alam nyata. Aliran seni antara lain: Kubisme, Romantisme, Plural Painting, Surrealisme, seni lukis daun dan abstraksi. “Lukisan abstrak minimalismerupakan seni yang tidak menampilkan objek seperti yang ada di dalam dunia nyata.
Pada awalnya perkembangan dari seni lukis (Misalnya abstrak) sangat terkait dengan perkembangan serta peradaban manusia terdahulu. dimulai dari cara bertahan ( berburu, memasang perangkap, bercocok tanam dan memulung), sistem bahasa serta kepercayaan yang mempengaruhi perkembangan seni lukisan.
Lukisan Abstrak populerItu lah beberapa contoh gambar lukisan abstrak terpopuler yang bisa anda dapatkan di “Galeri Lukisan Abstrak” dan Jual Lukisan Abstrak. Tidak hanya itu Ada juga Lukisan Abstrak 3 dimensi.
Posted in Lukisan Abstrak

sumber : https://lukisanminimalismodern.wordpress.com/tag/pengertian-lukisan-abstrak/ 

Contoh dan Ciri Seni Rupa Modern | Pengertian Seni Rupa Modern

Pengertian Seni Rupa Modern
Seni rupa modern adalah seni rupa yang tidak terbatas pada kebudayaan suatu adat atau daerah, namun tetap berdasarkan sebuah filosofi dan aliran-aliran seni rupa.

Ciri-ciri Seni Rupa Modern
Konsep penciptaannya tetap berbasis pada sebuah filosofi , tetapi jangkauan penjabaran visualisasinya tidak terbatas.
Tidak terikat pada pakem-pakem tertentu.

Contoh Seni Rupa Modern
Lukisan-lukisan karya Raden Saleh Syarif Bustaman, Basuki Abdullah, dan pelukis era modern lainnya.

Seniman Seni Rupa Modern
Raden Saleh Syarif Bustaman, Abdulah Sr, Pirngadi, Basuki Abdullah, Wakidi, Wahid Somantri, Agus Jaya Suminta, S. Sujoyono, Ramli, Abdul Salam, Otto Jaya S, Tutur, dan Emira Sunarsa.

Ini untuk Sobat sekalian yang pengen tau beberapa cara menggambar yang benar dan juga ciri ciri seni rupa tradisional

sumber : http://openmind4shared.blogspot.com/2012/09/contoh-dan-ciri-seni-rupa-modern.html